Presiden Palestina Mahmoud Abbas memastikan komitmennya untuk menyelenggarakan pemilihan presiden dan parlemen dalam waktu satu tahun setelah berakhirnya perang Israel di Gaza. Hal ini disampaikan melalui video dalam konferensi internasional mengenai Palestina di New York. Abbas menekankan bahwa rakyat Palestina menginginkan negara yang berdasarkan pluralisme dan peralihan kekuasaan secara damai. Selain itu, Abbas juga mendesak negara-negara yang belum mengakui negara Palestina untuk segera melakukannya.
Abbas, bersama dengan 80 pejabat Palestina lainnya, tidak dapat menghadiri acara PBB di New York secara langsung karena visanya dicabut oleh Departemen Luar Negeri AS. Namun, pada Senin pagi, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pengakuan resmi dari Prancis terhadap negara Palestina dalam konferensi yang sama. Australia, Kanada, dan Portugal juga secara resmi mengumumkan pengakuan mereka terhadap negara Palestina dalam waktu yang bersamaan. Ini merupakan langkah yang sangat ditunggu-tunggu oleh banyak pihak.
Pengakuan dari negara-negara tersebut memberikan harapan baru bagi rakyat Palestina untuk mendapatkan pengakuan yang lebih luas di kancah internasional. Langkah-langkah ini diharapkan dapat membawa perdamaian dan keadilan bagi Palestina. Selain itu, pengakuan dari negara-negara besar seperti Prancis juga memberikan tekanan kepada negara-negara lain yang belum mengakui Palestina untuk segera melakukannya. Semua pihak kini berharap agar proses perdamaian dan penyelesaian konflik di Timur Tengah dapat terus berlanjut dengan dukungan dari komunitas internasional.












