General Motors telah mengambil langkah untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada Cina dalam rantai pasokannya. Langkah ini merupakan bagian dari upaya yang dimulai akhir tahun lalu dan saat ini produsen mobil ini telah memberitahu para pemasoknya untuk mencari sumber bahan baku dan suku cadang dari negara lain.
Ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Cina menjadi latar belakang dari keputusan ini, dengan AS memberlakukan larangan impor kendaraan listrik Cina tahun lalu. Presiden AS Donald Trump juga menggunakan tarif sebagai taktik negosiasi, menambah ketidakpastian dalam operasi industri termasuk industri otomotif.
GM berbasis di Detroit telah menyatakan preferensi untuk mendapatkan suku cadang dari Amerika Utara, di mana perusahaan telah berinvestasi untuk mencapai ketahanan rantai pasokan. Meskipun GM menetapkan tenggat waktu 2027 bagi para pemasoknya untuk memindahkan sumber bahan baku dari Cina, proses ini diperkirakan akan memakan waktu dan biaya yang signifikan.
Langkah yang diambil GM juga mencakup instruksi kepada para pemasok untuk menghindari negara-negara seperti Rusia dan Venezuela, dengan fokus pada menemukan negara alternatif yang dapat menjadi sumber bahan baku dan suku cadang yang handal. Meskipun ini akan menjadi proses yang tidak mudah, GM yakin bahwa keputusan ini akan memberikan keuntungan jangka panjang bagi perusahaan dalam menyusun rantai pasokan yang lebih berkelanjutan.












