Sebagai seorang editor di InsideEVs, saya telah kehilangan kontak yang kuat dengan pasar mobil bermesin bensin. Saat rekan saya di Motor1 sering berbagi tentang mobil bermesin pembakaran internal terbaru yang mereka uji, saya sering kali merespons dengan kebingungan. Tetapi bahkan saya terkejut saat mengetahui bahwa Acura akan menghentikan produksi sementara crossover terlarisnya, RDX.
Sekarang, para dealer merasa kesal karena kehilangan model penting di tengah kemungkinan permintaan yang lemah terhadap model listrik RSX yang akan datang jika insentif pajak sebesar US$7.500 masih berlaku. Dan kali ini, mereka mungkin memiliki alasan yang valid.
Ini membuka edisi Critical Materials, rangkuman pagi kami tentang berita industri dan teknologi. Agenda hari ini juga mencakup: masalah Porsche di Tiongkok yang terus berlanjut, dan isu “Amerika harus memiliki Greenland” yang berdampak negatif pada saham otomotif.
Dalam situasinya, dealer Acura merasa frustasi dengan peralihan ke kendaraan listrik, dan mungkin mereka memiliki pendapat yang benar. RDX, meskipun bukan favorit saya, merupakan crossover mass-market yang kompetitif dan menjadi sumber pendapatan bagi pabrikan di tengah transisi menuju mobil listrik. Namun, penghentian produksi RDX untuk kemudian meluncurkan model hybrid baru dan RSX listrik membuat dealer tidak senang.
Saat beberapa pabrikan mobil berinvestasi dalam pasar Amerika Utara untuk menutupi kerugian di Tiongkok, langkah-langkah bisnis yang sesuai dengan tren pasar global tidak selalu mudah diambil. Kemungkinan strategi yang diambil oleh perusahaan otomotif bisa memiliki dampak yang besar pada masa depan bisnis mereka, terutama ketika faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah ikut campur tangan.
Perkembangan terbaru di Amerika Serikat terkait keinginan untuk mengambil alih Greenland juga telah mengganggu pasar saham otomotif, dengan ancaman tarif baru dari Trump. Industri otomotif terus diterpa oleh ketidakpastian dan perubahan dalam aturan regulasi, sehingga menentukan komposisi yang tepat dari powertrain pada tahun 2026 bisa menjadi tantangan tersendiri bagi para pabrikan. Seberapa jauh pabrikan mobil akan membaurkan opsi bensin, hybrid, dan listrik, merupakan pertanyaan yang masih harus dijawab. Kondisi pasar yang terus berubah dan persaingan yang semakin ketat membuat masa depan industri otomotif sangat tidak pasti.












