Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan keterbatasan anggaran pencegahan bencana yang dimilikinya saat ini. Hal ini mendorong lembaga tersebut untuk mencari tambahan pendanaan melalui pinjaman luar negeri. Kepala BNPB, Suharyanto, menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk memperkuat upaya mitigasi bencana di tengah keterbatasan anggaran dari APBN. Dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Jakarta, Suharyanto menyebut bahwa anggaran pencegahan BNPB relatif kecil, berkisar antara Rp17 miliar hingga Rp19 miliar per tahun. Oleh karena itu, lembaga tersebut harus mencari alternatif pembiayaan untuk meningkatkan kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi.
Selain mengupayakan pinjaman luar negeri, BNPB juga memanfaatkan Dana Siap Pakai (DSP) untuk langkah pencegahan di wilayah rawan bencana. Kerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga diperkuat dalam merumuskan konsep peringatan dini gempa bumi dan tsunami sebagai bagian dari upaya mitigasi. BNPB telah memperoleh pinjaman luar negeri sebesar Rp949.168.712.486 untuk membangun pusat pengendalian operasi di provinsi dan kabupaten/kota, serta pemasangan sensor peringatan dini di wilayah pesisir rawan gempa dan tsunami. Sensor tersebut memberikan peringatan dini kepada pusat pengendalian operasi dan daerah evakuasi saat tinggi muka air naik. Selain itu, rambu evakuasi juga telah di pasang di daerah yang sering terjadi bencana.












