Pada Rabu, 4 Februari 2026 pukul 17:00 WIB, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) merilis sekitar tiga juta dokumen tambahan terkait kasus Jeffrey Epstein. Namun, mengejutkan bahwa ribuan dokumen di antaranya ditarik kembali dari publikasi. Hal ini langsung menimbulkan keberatan dari para pengacara korban kejahatan seksual yang dilakukan oleh Epstein. Mereka menilai bahwa walaupun DOJ berjanji akan melindungi privasi para korban, namun sejumlah dokumen yang dipublikasikan justru mengungkap nama dan informasi identitas puluhan perempuan yang menuduh Epstein terlibat dalam praktik perdagangan seks, pelecehan, dan kejahatan lainnya.
Pengacara Brittany Henderson dan Brad Edwards menulis surat resmi untuk menyampaikan keberatan mereka. Mereka menyatakan bahwa DOJ melakukan pelanggaran privasi korban yang parah dan meminta dua hakim federal AS untuk menurunkan situs yang memuat arsip Epstein. Kekecewaan juga dirasakan karena DOJ sebelumnya berjanji akan melindungi privasi korban namun dokumen yang dirilis masih mengandung foto-foto tanpa busana perempuan muda, beberapa di antaranya diduga masih di bawah umur, serta informasi pribadi seperti nama dan tanggal lahir korban.
Sejak 19 November, ketika Undang-Undang Transparansi Arsip Epstein disahkan, DOJ sebenarnya sudah memiliki waktu untuk meneliti materi yang akan dipublikasikan. Hanya saja, dokumen yang dirilis tetap mengungkapkan foto-foto tanpa busana dan informasi pribadi korban. Selain itu, ditemukan bahwa salah satu dokumen yang ditarik adalah transkrip kesaksian tahun 2007 dari seorang agen yang terlibat dalam Operation Leap Year, sandi penyelidikan FBI terhadap Epstein. Kesalahan yang terjadi menunjukkan kelalaian serius dan menurunkan kepercayaan publik terhadap DOJ.












