Hari Senin menjadi sorotan dunia dengan dibukanya lantai bursa yang sangat dinantikan. Florian Weidinger, Chief Investment Officer Santa Lucia Asset Management, telah memprediksi bahwa dampaknya bahkan lebih besar daripada situasi di Venezuela. Jika gangguan produksi minyak terjadi di Venezuela, Iran akan menjadi fokus distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz. Data dari Kpler menunjukkan bahwa sekitar 13 juta barel minyak mentah lewat selat tersebut setiap hari, setara dengan 31% pasokan global. Kenneth Goh dari UOB Kay Hian Singapura juga menyoroti pentingnya Venezuela dalam hal produksi dan Irak dalam hal titik hambatan distribusi.
Pasar mengingat kejadian sebelumnya menyebabkan ketegangan ekstrem dalam kaitannya dengan kemungkinan serangan Israel terhadap situs nuklir Iran. Investor telah beralih ke Emas dan Dolar AS untuk melindungi aset mereka di tengah ketidakpastian. Alicia GarcĂa-Herrero dari Natixis memperkirakan bahwa hari Senin akan menjadi hari yang menegangkan bagi bursa saham global. Prediksinya termasuk penurunan 1% hingga 2% dalam ekuitas global, kenaikan 5% hingga 10% dalam harga minyak, dan penurunan imbal hasil surat utang AS sebesar 5 hingga 10 basis poin.
Alicia juga mengingatkan pasar agar tidak mengambil risiko berlebihan dan menunggu reaksi dari Teheran. Selama selat Hormuz tetap terbuka, dunia hanya bisa berharap bahwa situasi ini tidak akan mencapai titik kritis yang dipicu oleh Iran.










