Pakar hubungan internasional dari Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, menganggap serangan militer Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran sebagai sebuah ujian serius bagi kredibilitas Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian. Ahmad menyatakan bahwa serangan tersebut memperjelas kontradiksi antara retorika stabilitas dan praktik militer di lapangan, serta menguji kredibilitas narasi perdamaian melalui BoP. Selain itu, ia menyoroti bahwa eskalasi konflik tersebut menjadi momen refleksi bagi negara-negara Islam yang relatif independen, seperti Turki dan Indonesia, untuk meninjau kembali kerja sama dengan BoP.
Ahmad juga menilai pentingnya langkah deeskalasi dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sebagai upaya untuk mencegah potensi rekayasa ulang keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Ia mengingatkan bahwa dinamika konflik di kawasan tersebut jika dianggap sebagai sesuatu yang normal dan dunia internasional memilih untuk berdiam diri, maka potensi ekspansi konflik bisa meluas ke wilayah lain, termasuk Greenland, Kanada, atau kawasan Eropa dan Amerika Latin lainnya.
Serangan dan respons balasan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran menciptakan ketegangan yang semakin meningkat. Israel melancarkan serangan terhadap Iran, diikuti dengan operasi tempur besar-besaran yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump. Iran pun merespons dengan meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel serta beberapa target di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Dalam situasi tersebut, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengumumkan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto siap untuk memfasilitasi dialog di Iran guna membantu menciptakan kondisi keamanan yang kondusif di kawasan tersebut.
Meskipun eskalasi konflik tersebut menyisakan ketegangan yang belum terselesaikan, upaya diplomasi dan dialog tetap menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan mendorong penyelesaian damai atas konflik yang berpotensi meluas secara regional maupun global. Ekonom juga memperingatkan bahwa serangan Israel ke Iran berpotensi meningkatkan harga minyak hingga tembus 100 dolar AS per barel, yang dapat memicu kenaikan harga bahan bakar dan inflasi. Tindakan yang diambil oleh pihak-pihak terkait dalam mengatasi konflik ini akan menjadi penting untuk menjaga perdamaian dan kestabilan di kawasan tersebut.












