Pada tanggal 3 Maret 2026, Melania Trump memperoleh sorotan setelah memimpin sidang Dewan Keamanan PBB pada Senin, 2 Maret. Dalam pertemuan tersebut, Melania menekankan perlunya melindungi akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah yang tengah dilanda konflik. Sorotan hangat pun mengiringi seruan Melania ini, terutama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan yang menewaskan 165 orang di sebuah sekolah khusus di wilayah selatan Iran pada Sabtu sebelumnya.
Melania mengungkapkan harapannya agar kedamaian segera diperoleh oleh semua anak di dunia, dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat berdiri bersama mereka. Meskipun tanpa menyebut secara langsung perang yang berlangsung atau serangan terhadap sekolah tersebut, dalam pidatonya Melania menegaskan pentingnya pendidikan sebagai kunci untuk mencegah konflik.
Dalam konteks yang sama, Melania juga mendorong negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB untuk berkomitmen dalam melindungi pendidikan di masing-masing komunitas dan memperluas akses pendidikan yang lebih baik bagi semua anak. Ungkapan Melania tentang perlindungan buku, bahasa, sains, dan matematika sebagai upaya melindungi masa depan, serta keinginannya membangun generasi pemimpin masa depan yang menjunjung perdamaian melalui pendidikan, menjadi sorotan dalam sidang tersebut.
Namun, reaksi dari Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menunjukkan ketidakcocokan antara tindakan Amerika Serikat dalam menggelar pertemuan perlindungan anak di tengah konflik dengan serangan udara yang dilancarkan ke kota-kota di Iran. Iravani menyebut tindakan Washington sebagai munafik dan memalukan, meragukan kejujuran dari misi perlindungan anak yang diperjuangkan.
Kehadiran Melania Trump dalam sidang tersebut juga memantik spekulasi tentang perbaikan hubungan antara Amerika Serikat dan PBB. Semua peristiwa ini mencerminkan kompleksitas dalam dinamika politik global dan tantangan perlindungan hak anak di tengah konflik yang terus berlangsung.












