Pada Kamis, 9 April 2026, Iran mengeluarkan tudingan terhadap Amerika Serikat atas pelanggaran sejumlah poin dalam kesepakatan penghentian konflik. Hal ini terjadi di tengah gencatan senjata yang baru berlaku kurang dari sehari. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan bahwa Amerika Serikat tidak menunjukkan komitmen sejak awal proses pembicaraan, menyebabkan upaya gencatan senjata dan negosiasi menjadi tidak relevan.
Ghalibaf menegaskan bahwa pembicaraan damai serta gencatan senjata dengan Amerika Serikat saat ini tidak masuk akal. Ia menyebut bahwa terdapat tiga pelanggaran utama yang dilakukan oleh AS. Di antaranya, serangan Israel terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon, dugaan pelanggaran wilayah udara Iran oleh pesawat tanpa awak setelah gencatan senjata, dan penolakan AS terhadap keberadaan program pengayaan uranium Iran dalam kesepakatan akhir.
Dalam perkembangan terkini, Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan yang meningkat dari Israel terhadap Hizbullah di Lebanon. Hal ini menimbulkan reaksi keras dari Amerika Serikat yang mendesak pembukaan kembali jalur tersebut. Penutupan Selat Hormuz memiliki potensi dampak pada konflik regional dan ekonomi global. Sementara itu, konflik terus berlanjut dengan intensifikasi serangan Israel di Lebanon, mengakibatkan banyak korban jiwa dan luka-luka.
Serangan drone dan rudal juga dilaporkan terjadi di wilayah Iran dan negara-negara Teluk, yang semakin memperburuk situasi keamanan di kawasan tersebut. Langkah-langkah ini memperlihatkan kerapuhan kesepakatan yang baru saja diumumkan, dengan kedua belah pihak masih saling klaim kemenangan, namun terjadi eskalasi konflik di lapangan. Selain itu, Gedung Putih mengumumkan bahwa Wakil Presiden AS, JD Vance, akan memimpin delegasi dalam pembicaraan lanjutan yang diharapkan dapat meredakan ketegangan.












