Gus Lilur Soroti Nama Dirjen Bea Cukai yang Terseret Kasus Suap
Minggu, 14 Juni 2026 – Saat ini, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang dikenal dengan Gus Lilur, memberikan sorotan terhadap Dirjen Bea Cukai, Djaka Budhi Utama, yang terlibat dalam persidangan KPK terkait dugaan aliran suap bernilai miliaran rupiah.
Gus Lilur Minta Evaluasi Lingkungan Direktorat Bea Cukai
Gus Lilur, yang juga merupakan pengusaha rokok, menilai bahwa Presiden Prabowo Subianto seharusnya melakukan evaluasi terhadap lingkungan Direktorat Bea Cukai. Menurutnya, pejabat setingkat direktur jenderal seharusnya membantu Presiden dalam menjaga penerimaan negara, menertibkan tata kelola cukai, dan menyelamatkan uang negara.
Dalam pernyataannya, Gus Lilur menyebut bahwa Dirjen Bea Cukai tidak membantu Presiden, melainkan malah membuat malu Presiden. Ia menegaskan bahwa kritiknya terhadap Djaka Budhi Utama didasari oleh fakta persidangan yang terungkap di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat.
Desakan Gus Lilur untuk Mencopot Dirjen Bea Cukai
Gus Lilur secara tegas mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mencopot Djaka Budhi Utama dari jabatan Dirjen Bea Cukai. Menurutnya, bukti yang muncul di persidangan KPK sudah terlalu serius untuk diabaikan.
Ia menekankan bahwa Presiden membutuhkan pembantu yang memiliki keberanian, integritas, patriotisme, dan harga diri untuk membela kepentingan negara. Gus Lilur juga menyatakan bahwa penindakan terhadap Dirjen Bea Cukai yang terlibat dalam dugaan penerimaan suap menunjukkan kurangnya moral dalam kepemimpinan Bea Cukai.
Secara keseluruhan, Gus Lilur menegaskan bahwa pejabat pembantu Presiden harus benar-benar membantu dan bukan malah menjadi biang masalah. Beliau menekankan pentingnya keberanian, integritas, dan kesetiaan dalam menjalankan tugas negara, bukan sekadar penampilan di panggung publik tanpa substansi.
Pembantu Presiden Harus Membela Kepentingan Negara
Dalam pandangan Gus Lilur, pembantu Presiden haruslah menjadi pahlawan negeri yang mendukung pembangunan negara. Bukan hanya mengejar popularitas tanpa substansi, melainkan menjadi sosok yang berani dan teguh dalam membela kepentingan negara.












