Starbucks Korea Tutup Gerai-Gerainya demi Pelatihan Karyawan
Pada tanggal 18 Juni 2026, jaringan kedai kopi terkenal, Starbucks di Korea Selatan, memutuskan untuk menutup seluruh gerainya yang berjumlah 2.000 unit. Keputusan ini diambil untuk memberikan pelatihan sejarah dan sensitivitas sosial kepada seluruh karyawan mereka. Langkah ini diambil setelah adanya skandal promosi yang dianggap menghina salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah demokrasi Korea Selatan.
Pelatihan dan Penutupan Gerai
Penutupan seluruh gerai Starbucks Korea dijadwalkan akan dilaksanakan pada Senin pekan depan pukul 15.00 waktu setempat. Para karyawan diwajibkan untuk menonton rekaman kuliah sejarah Korea modern dan mengikuti pelatihan kepekaan sosial. Tidak hanya karyawan, Ketua Shinsegae Group bersama eksekutif perusahaan juga akan mengikuti pelatihan serupa pada Rabu.
Insiden Awal
Insiden bermula saat Starbucks Korea meluncurkan promo diskon untuk tumbler terbaru mereka dengan istilah ‘Tank Day’ dan angka ‘5/18’ pada 18 Mei lalu. Penggunaan istilah tersebut menuai kemarahan masyarakat Korea Selatan karena dianggap merujuk pada peristiwa penumpasan militer terhadap gerakan pro-demokrasi pada 18 Mei 1980 di kota Gwangju.
Melalui laman Al Jazeera, diketahui bahwa CEO Starbucks Korea, Son Jung-hyun, telah dipecat dari jabatannya karena peran dalam krisis hubungan masyarakat tersebut. Meskipun kejadian tersebut tidak disengaja, namun pihak Starbucks menyatakan bahwa seharusnya insiden itu tidak terjadi.
Shinsegae Group, sebagai operator Starbucks Korea, menjelaskan bahwa penutupan ini merupakan yang pertama kalinya sejak Starbucks memulai operasinya di Korea Selatan pada tahun 1999.
Pemberontakan Gwangju
Pemberontakan Gwangju menjadi titik penting dalam sejarah demokratisasi Korea Selatan. Peristiwa tersebut turut mendorong proses demokratisasi dan penggelaran pemilu bebas pertama pada tahun 1987 setelah puluhan tahun pemerintahan militer.
Peristiwa ini dipelopori oleh mahasiswa yang menentang pemerintahan militer Chun Doo-hwan. Namun, gerakan tersebut ditumpas dengan kekerasan oleh militer, dimana lebih dari 200 orang tewas. Para aktivis menduga jumlah korban sebenarnya bisa mencapai lebih dari 2.000 orang.












