Detik-Detik Eksekusi Mati Freddy Budiman Menurut Dokter Forensik Polri
Sabtu, 11 Juli 2026 – Eksekusi mati Freddy Budiman pada 29 Juli 2016 di Lapas Nusakambangan masih menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Dokter forensik Polri, Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti, membagikan kisahnya terlibat dalam eksekusi tersebut, mulai dari persiapan terpidana hingga proses regu tembak.
Prosedur Eksekusi Menurut Sumy Hastry
Menurut Sumy Hastry, selama eksekusi terhadap Freddy Budiman bersama dua warga negara asing, dia bertugas sebagai dokter dalam tim medis pelaksana eksekusi. Berbicara di kanal YouTube Kick Andy Show, Sumy Hastry menyebut bahwa masyarakat lebih akrab dengan eksekusi melalui regu tembak dibandingkan metode lain seperti kursi listrik atau suntik mati.
Selama ini, masyarakat meyakini bahwa hanya satu peluru yang benar-benar mematikan terpidana, sehingga para penembak tidak tahu siapa yang mengakhiri hidup terpidana. Sumy Hastry mengakui pernah menghadapi dilema profesi ketika ditugaskan sebagai dokter dalam eksekusi mati. Meskipun demikian, ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai bagian dari kewajibannya sebagai anggota Polri.
Prosedur Pelaksanaan Hukuman Mati
Sebelum dilaksanakan eksekusi, terpidana menjalani pemeriksaan kesehatan. Setelah dinyatakan siap, mereka dibawa ke lokasi eksekusi pada tengah malam dengan mengenakan pakaian putih. Para terpidana diikat ke tiang dan dokter menempelkan titik di lokasi yang langsung mematikan terpidana.
Sebagai anggota tim eksekusi, Sumy Hastry memahami rinci prosedur yang dijalankan regu tembak untuk melaksanakan hukuman mati. Pengalaman tersebut memberikan wawasan unik terkait pelaksanaan eksekusi mati di Indonesia.












